Sunday, February 2, 2020

AKIBAT SATU APARTEMEN

SUHU DOMINO
SUHU DOMINO
6100game - Mataku memandang sekeliling. Semua tampak tidak dikenal.
Maklumlah.. aku anak luar kota yang kuliah di Ibukota.
Hari ini hari pertama orientasi kampus.

Teriakan-teriakan senior menggema seharian.
"Ngapain lu ngeliatin gue! Jagoan lu yah?"
Hari gini masih sok berkuasa?
"Tidak kakak!" aku menundukkan kepala.
"Sana duduk!" didorongnya aku sampai terjatuh dan menimpa
teman satu kelompok.

"Aduh! Sakit tahu!" Jerit gadis manis yang tertimpa diriku.
"Maaf! Rese nih senior! Beraninya cuma teriak-teriak doang."
"Iya rese.. lu juga rese.. minggir lah.. buruan duduk nanti gue juga kena semprot!"
"Maaf.. maaf... BTW, nama gue Anton. Nama lu siapa?"
"Vivi"
"NGAPAIN LU BERDUA? NGOMONGIN GUA YAH?" teriak salah satu senior.

********

Kuliah sudah setahun lebih.
Aku sedang mencari tempat tinggal dekat kampus. Di tempat kosku ini mulai kurang nyaman.
Waktu survei pertama kali, karena belum tahu seluk beluk ibukota, aku memilih lokasi secara terpaksa.
Pulang pergi kampus selalu macet.
Naik angkutan umum selalu mencium bau keringat dan asap knalpot.
Untuk mencari makanan di sekitar kos juga susah.
Perkuliahan yang segera padat pun tidak menolong kenyamanan.
Pokoknya sudah kepengen muntah dah.

"Vivi, James, Anita, lu orang tahu tempat kos yang dekat kampus gak sih?
"Wah kaga tahu gue, Ton. Rumah gue kan memang dekat sini tapi kaga tahu juga kos-kosan di mana" sahut James.
"Gue tahunya kos-kosan eksekutif. Mahal banget. Sebulan bisa 3 juta lebih. Orang kantoran semua isinya" kata Anita.
"Emang kenapa tempat kos lu sekarang, Ton?"
"Susah cari makan dan jauh lagi dari kampus. Pengen cari yang dekat kampus nih. Biar bisa bangun siang-an."

"Wah.. gue juga mau nge-kos nih, Ton. Rumah gue jauh di Selatan. Mending ngekos aja." Vivi menimpali.
"Kita cari sama-sama aja. Cari kos-kosan yang bisa cowok dan cewek. Biar kita bisa pulang pergi bareng."
"Ide yang bagus Vi!!"

Dalam seminggu ke depan, kami pun mencari ke sana-sini.
Yang cukup menarik perhatian adalah apartemen dekat kampus.
Masalahnya mahal kalo sewa sendirian. Tapi kalau dibagi dua, cocok deh harganya.
Vivi mana mau kalo tinggal bareng. Dia gadis muda yang cantik sekali.
Bibirnya tipis, senyumnya menawan, dan tubuh atletisnya selalu dibalut kaos ketat.
Tubuhnya selalu menebarkan parfum manis buah-buahan.
Pokoknya betah deh kalo duduk dekat-dekat Vivi.

"Vi, apartemen yang di sana itu gimana menurut lu?"
"Bagus sih Ton. Tapi mahal kalo sewa di sana. 1 unit 2 kamar sih. Kalau harganya setengah itu baru gua mau.
Lagian kan gue cuma pakai 1 kamar."
"Pikiran gue juga sama Vi. Mahal kalo seorang yang ambil. Tapi enak. Dekat Kampus. Mau ke mall juga gampang."
"Bener, Ton..."
Kita berdua terdiam tapi saling pandang...... dan Vivi pun tersenyum...
"Gimana kalau kita sewa itu apartemen, gue ambil 1 kamar, lu ambil yang satunya lagi."
Mimpi di siang bolong nih.. malah Vivi yang ngusulin...
"Wah.... ide yang bagus Vi... tapi kaga apa sama bonyok lu kalo kita tinggal bersama?"
"Entar gue omongin dulu deh sama bonyok gue. Mereka kan dah kenal ama lu ini."

***

"Ton... berita bagus... bonyok gue kaga keberatan kita sewa apartemen bersama. Asal jangan macam-macam aja."
"Wah.. bagus banget Vi! Tapi gue kaga janji ah....."
"Ha? Kaga janji apaan?"
"Kaga janji kaga macam-macam..."
"Ih.. elu tuh yah..." dicubit gemasnya aku berkali-kali.
"Aww...aww...aww..udah dong Vi! Kapan lu mau pindah? Ini kan baru tgl 15. Gue genapin dulu sampai akhir bulan yah"
"Iya Ton.. tanggung.. sampai akhir bulan aja. Awal bulan kita dah bisa tinggal sama-sama.
Entar pulang kuliah kita mampir ke apartemen itu deh. Kemaren gue dah tanya-tanya sama agen properti.
Hari ini dia mau kasih lihat beberapa unit yang siap disewakan."
"Wah.. lu gerak cepat juga yah Vi. Ya dah nanti kita ketemuan di sini lagi baru jalan bareng ke sana."



"Apartemen yang ini kayaknya yang paling cocok. Design interiornya menarik. Dan kamar mandinya ada bathtub..
walaupun bikin sempit sih. Harganya pun masuk akal. Gimana menurut lu, Ton?"
Aku yang belum pernah masuk ke apartemen manapun merasa terpukau dengan indahnya tata ruang di apartemen ini.
Tidak terlalu besar sih... ukurannya 45m2. 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi yang memang dipaksa ada bathtub.
"Kalo lu suka, yah kita ambil ini aja. Dapurnya juga bagus designnya."
Kitapun memilih apartemen ini dan menyelesaikan administrasi yang dibutuhkan agen property.
Kita meminta agar masa sewa mulai berlaku awal bulan mendatang tetapi dah boleh masuk untuk mengisi
barang-barang kami. Pemilik apartemen tidak keberatan.


Masa-masa tinggal bersama pun dimulai.
Kejadian-kejadian lucu dan memalukan sering terjadi.
Seperti satu waktu pas nonton tv bareng, tekanan gas di perutku tidak dapat ditahan dan keluarlah dengan suara menggelegar.
Vivi sampai melarikan diri ke kamarnya sambil memaki-maki.

Atau pas angkat jemuran karena hujan mulai turun. Vivi sewot karena malu BH dan celana dalamnya aku yang angkat.
Lha.. udah seharian dijemur di sana, kan aku juga sudah lihat dari tadi.

Atau pas aku kepengen buang air besar dan Vivi sedang berendam di bathtub.
"Vi.. buruan dong.. gue kepengen boker nih"
"Gue kan baru aja berendam, Ton!"
"Bukain dong.. Kaga tahan nih.."
"Enak aja lu.. gue kan lagi mandi.."
"Aduh.. Vi.. buruan dong!!"
"Ahh.. elu Ton.. Gue bukain tapi jangan langsung masuk. Tunggu gue panggil baru lu masuk."
"Iya buruan buka!!"
Klik.. kunci kamar mandi sudah dibuka..
"Udah boleh masuk belom, Vi?"
"Bentar.. Ya dah.. masuk..."
Aku yang sudah tidak tahan.. segera masuk dan menuju toilet duduk yang tepat berada di sebelah bathtub.
Kubuka celana dan celana dalam bersamaan. Duduk dan langsung preeettt.....preetttt... preetttt...
Muatan besar langsung dikosongkan.
"Sialan lu, Ton.. pake bunyi mencret segala lagi."
Baru aku sadar kalau Vivi memang masih di dalam dan sedang berendam dalam busa sabun yang melimpah.
Tangannya sedang menutupi hidung mancungnya, menghindari bau.
Kaga kepikiran seks deh waktu itu.. Sakit perutnya terlalu menyita perhatian.

Begitu mereda sakit perutnya baru aku lihat kalau Vivi memperhatikanku dengan seksama.
Takut kalau badan telanjangnya dinikmati oleh mataku.
"Kalau sudah selesai, keluar dong Ton.. Gue kan masih mandi nih."
"Iya Vi...bentar dong"
Aku ambil semprotan air untuk membersihkan duburku dan... jreng..jreeng... tititku ngaceng!!
Gawat nih.. gimana tutupinnya?
Akhirnya aku nekat saja. Aku bangun dan mengambil celanaku di bawah dan memakainya sesegera mungkin.
Sepertinya Vivi melihat kelaminku, karena mukanya memerah dan dia buang muka ke arah lain.
Buru-buru deh aku keluar. SUHU DOMINO

****

Sebagai laki-laki yang tinggal se-apartemen dengan wanita cantik, libidoku sering memuncak.
Kompensasinya adalah aku selalu masturbasi sendiri dengan meminjam BH dan celana dalam Vivi tanpa sepengetahuannya.
BH dan celana dalam Vivi selalu mudah aku ambil, sebab jadwal kuliah kami tidak selalu bersamaan dan kamar kami
masing-masing tidak pernah dikunci.
Bahkan kalau malam hari, aku sering melongok ke kamar Vivi pas malam hari.
Vivi kalau tidur selalu memakai baju tidur terusan.
Dia tidak sadar pada saat tidur, baju terusannya sering terangkat sampai ke pinggang.
Memperlihatkan paha mulus dan celana dalam sexynya.
Pada saat itu aku selalu masturbasi sambil membayangkan mengelus paha mulusnya.
Aku tidak berani macam-macam dengan Vivi. Sudah tinggal bersama saja sudah bersyukur.


Hingga satu hari.......

Aku pulang ke apartemen sekitar jam 4 sore.
Panas banget di jalan. Aku segera membuka kaosku yang keringatan.
Duduk di sofa sambil merasakan hembusan AC yang sejuk.
Aku berjalan ke lemari pendingin untuk ambil minuman.
Pintu kamar Vivi sedikit tertutup.
Vivi hari ini tidak kuliah karena memang sedang kosong jadwalnya.
Biasanya dia keluar jalan-jalan sama teman-temannya tapi hari ini dia ada di kamarnya.
Tertidur. Sore-sore memang enak kalo tidur sebentar.
Paha mulusnya tentu saja terlihat jelas. Bahkan sampai lipatan vaginanya tercetak jelas di celana dalam transparannya.
Aku masuk perlahan-lahan untuk melihat lebih dekat.
Ah... bagus banget... semakin dekat aku teliti, ku perhatikan kalau vagina Vivi tercukur bersih.

Tidak tahan... aku segera mengeluarkan tititku dan mulai mengocok perlahan-lahan sambil memperhatikan belahan vaginanya.
Pemandangan yang sangat indah.
Kalau malam biasanya terlalu gelap untuk melihat sejelas ini.
Semakin lama semakin kupercepat kocokanku.
Kurasakan kalau aku segera memuncak.......
"Lu lagi ngapain Ton?" Tiba-tiba Vivi bangun dan segera terduduk.
Karena aku sudah dekat dengan puncak kenikmatan dan juga karena kaget.. CROTT..CROTTT..CROOTTT...
Tiga kali aku tembakkan spermaku tanpa terkontrol.
Semua gerakan terasa slow motion saat ini.
Kulihat spermaku terbang perlahan dan mendarat di muka Vivi yang kaget.
Setelah itu perlahan namun pasti spermaku meleleh dari mata dan hidung meluncur menuju bibir.
Dan... lidah Vivi bergerak perlahan membersihkan "kotoran" di bibirnya.
Saking kagetnya dan kagumnya akan gerakan lambat tersebut, aku sampai lupa menyimpan tititku dan hanya kupegangi saja.

"Sialan lu Ton! Masa gue disemprot begini!"
Tangannya membersihkan sperma yang menempel di wajahnya dan.. dan... dijilat bersih!
"Lu kalau mau masturbasi, bilang-bilang kek. Gua pikir maling masuk!"
Aku masih terbengong-bengong melihat pemandangan luar biasa tadi.
"Sperma lu enak juga yah!!" Sambil terus mengecap-ngecapkan lidah ke bibir.
"Sayang tuh... Sini gua telan semua sperma lu"
Aku masih terkesiap.. tidak tahu mau komentar apa.. dan Vivi sudah mendekatkan diri ke tititku.
Diambilnya titit yang sudah mulai melemas dan dibersihkannya dengan lidah yang sigap.
Dijilat ujung kepalanya, dijilat batangnya, dan dijilat bijinya.
"Uhhmmm... enak banget, Vi!!"
"Makanya kalo mau masturbasi bilang-bilang. Gua bantuin deh!"

Mukaku langsung memerah.
"Kok lu bisa mau langsung telan sperma gue sih, Vi?"
"Gue kan juga wanita. Butuh pelammpiasan seks juga. Gua sering ngebayangin telan sperma sih. Akhirnya kesampean. Thanks lho, Ton"
Tidak lama dijilat-jilat, tititku langsung mengeras lagi. Otak kotorku langsung bekerja.
"Vi, lu dah lihat titit gue.. Mau dong lihat lu telanjang juga."
"Ih.. maunya.. Kalo bener mau, lu musti kasih gue foreplay dulu dong. Memek gua masih kering nih."

Dengan segera aku mendorong Vivi ke atas ranjang dan mencium bibirnya dengan lembut.
Ini ciuman pertamaku. Perlahan-lahan lidahku kumasukkan ke dalam mulutnya.
Vivi menyambutnya dengan memainkan lidahnya ke lidahku.
Ah.. Nikmat sekali bibir manisnya. Hal ini semakin membuat keras tititku.
Kemudian aku pindah ke leher belakangnya.
Vivi menggelinjang. Geli katanya, tapi merangsang.

Kuteruskan ciumanku di sekitar lehernya yang jenjang.
Tanganku mulai beraksi dengan mengelus dada penuh Vivi.
Ah..kenyal.
Kuremas perlahan-lahan.. Vivi semakin menggelinjang.
Kurasakan payudaranya semakin mengeras, semakin menggemaskan.
Tidak tahan cuma mengelus, kuangkat daster Vivi sampai payudaranya terlihat jelas.
BH yang dipilihnya berwarna pink. Serasi dengan warna kulitnya yang putih.
Membungkus rapi payudara indah nan mengkal.

Aku hanya bisa terpana melihat payudara Vivi untuk pertama kalinya.
"Ayo! Jangan cuma dilihatin dong, Ton. Buka dong BH gua!"
"I..I..Iya, Vi!" Dengan gelagapan, aku meraih ke belakang tubuh Vivi.
"Lho.. kok kaga ada kaitannya Vi? Gimana bukanya?"
BH kali ini memang belum pernah aku lihat sebelumnya. Beda sama yang biasa aku pinjam untuk masturbasi.
"Dasar lu Ton.. Ini BH kaitannya ada di depan. Bukanya kayak gini nih"
Vivi melepas sendiri BH pinknya.

Terpampanglah sepasang bukit indah. Puncaknya mungil berwarna pink.
Mataku tak dapat lepas dari bukit-bukit ini.
Kedua belah tanganku segera menggantikan BH yang terlepas.
Terasa cukup berat juga. Memang ukuran dada Vivi adalah 36C.
"Hisap dong, Ton! Gua pengen ngerasain kalo nyusuin bayi gede gimana..."
Mendengar perintah tersebut, segera kuarahkan mulutku ke puting merah jambu dari bukit putih yang kiri.

Perlahan-lahan kuhisap. Masih belum percaya kalau sekarang aku sedang 'menyusu'.
Empuk dan kenyal. Lembut dan halus. Luar biasa!
Vivi yang baru pertama kali disedot payudaranya langsung merasakan kenikmatan.
"Enak banget, Ton! Tahu gini dari dulu aja lu kenyot, Ton!"
Lidahku pun bermain-main di putingnya yang mulai mengeras.
Tangan kiriku bermain di payudara kanannya, juga mulai memilin dan memencet dengan gemas puting kanan.

Cukup lama aku bermain-main di payudara Vivi.
Vivi pun terus bergelinjang kenikmatan bahkan sampai mengalami orgasme pertamanya oleh laki-laki.
"Sampai yah, Vi?"
"Iya Ton.. Gua kaga nyangka baru dihisap elu aja, gua dah sampai."

"Vi, lihat memek lu dong. Boleh yah?"
"Silahkan aja.. Asal lu jilat yah! Kan gua dah jilat titit lu tadi"
"Wah.. mana bisa gue tolak tantangan lu."
Segera ku tarik celana dalam pink yang transparan itu.
Vivi mengangkat sedikit pantatnya agar mempermudah pelepasan celana dalamnya.
Begitu terlepas, Vivi segera mengangkang, memperjelas pemandangan lembah yang merangsang.

Memek Vivi terlihat bersih, dengan rerumputan halus yang tidak dapat menutupi keindahannya.
Rapat dan telah basah. Sangat basah.
Tititku semakin cenat-cenut.
Apakah aku bisa memasukkan tititku ke dalam lembah indah ini?
"Jangan cuma lihat dong Ton... katanya mau jilat memek gua?"
"Bentar dong, Vi.. Ini kan gue lagi melakukan foto secara mental. Biar keinget terus!"
"Dasar lu! Buruan ah! Cape ngangkang tahu!"

Segera kudekatkan wajahku ke memek Vivi.
Tercium wangi khas Vivi. Wangi badan Vivi memang seperti ini.
Cuma di bagian memek, seperti konsentratnya.
Wangi... wangi sekali..
Aku pun segera menjilat memek yang sudah basah dari tadi.
Ah... rasanya pun nikmat.. tidak ada bau pesing ataupun amis.
Aku pun melanjutkan jilatan ke memek Vivi.
Aku sapu seluruh permukaan. Tidak ada yang terlewat.

"Ah.. Ton.. di bagian ini enak dijilatnya." Vivi menunjukkan clitorisnya.
Aku yang belum mengerti kenapa bagian itu enak dijilat, tidak membangkang.
Jilatan perlahanku di clitorisnya membuat Vivi melengkungkan badan mengalami nikmat.
"Terus Ton... lebih cepat Ton di situ."
Cup..clup.. slurp.. cup.. slurp.. semakin cepat aku menjilati clitoris Vivi dan...
"AAAHHHHH.... Gua sampe lagi, Ton!!"
Dengan deras cairan kewanitaan Vivi keluar dan membuat mulutku becek.
Aku kewalahan menikmati cairan dewi ini. Kutelan secepat yang aku bisa dan sebanyak yang aku bisa.
Vivi segera terkulai lemas.

Tititku yang dari tadi menuntut pelampiasan, mengajakku mendekatkan kepalanya ke memek Vivi.
Vivi yang masih lemas, pasrah ketika kakinya kubuka lebar-lebar.
Kugesekkan perlahan-lahan kepala tititku di memek basahnya Vivi.
Gila.. enak banget. Hal ini selalu kubayangkan ketika masturbasi sambil menciumi BH dan celana dalam Vivi.
Vivi mulai merasakan kenikmatan kembali. Desahannya menambah nafsuku.

Perlahan-lahan kepala tititku mulai tenggelam di lembah hangat.
Kudorong keluar masuk sampai mentok di selaput daranya.
Vivi terlihat masih menikmati sodokan halusku. Dia tidak tahu kalau kepala tititku sudah tenggelam.
Hanya selaput dara nya yang menghalangi gerakanku.
Nafsu dan nalar berkelahi di pikiranku.
Apakah kuambil perawannya? Atau kunikmati saja seperti ini?
Sepertinya nafsuku yang menang.....

Baru saja hendak kulakukan sodokan keras, Vivi bangun dari posisinya dan membalikkan badan.
Menungging.
"Ton, ayo sodok dari belakang! Gua pengen ngerasain doggy style nih."
"Ok, Vi!"
Wah dikasih posisi seperti ini... bisa langsung bolong nih..
"Vi.. kalo posisi kayak gini bisa bolong lho nanti... Yakin nih?"
Padahal aku dalam hati mau banget... kapan lagi wanita cantik telanjang bulat, nungging di depanku.

"Ah iya.. yah... tapi... gua dah nafsu banget Ton... bolongin aja deh Ton.. Gua pengen tahu juga rasanya titit lu di dalam gua."
Mendengar itu aku langsung ambil posisi di belakang pantat Vivi dan mengarahkan tititku ke memek Vivi.
"Ok Vi.. gua juga pengen ambil perawan lu kok. Dah dari hari pertama ketemu elu, gue pengen ngerasain memek lu."
Kusodok perlahan-lahan. Kepala tititku segera mentok selaput dara.
"Siap Vi? Gua sodok nih...hmmphh" Sodokan kerasku langsung merobek selaput dara Vivi."
"ADUHHHH.... SAKIT.. Ton... pelan-pelan dong"
Vivi berusaha mencabut tititku dengan menjatuhkan diri ke depan tetapi keburu kutahan.

Pinggul Vivi kupegang sambil kurasakan tititku diremas-remas oleh memek Vivi yang belum terbiasa dimasuki benda asing.
Gila.. enak banget.
"Ton.. sakit tahu.. pelan-pelan yah.." Vivi memelas.
Kuturuti kemauan Vivi. Gerakan maju mundur secara perlahan kulakukan.
Vivi masih mengeluarkan rintihan halus. Perih katanya.
Memang masih berasa kesat gesekan ini. Terasa kering.
Tetapi secara perlahan kurasakan Vivi mulai basah kembali.

Gerakan maju mundurku semakin lancar tetapi belum kupercepat.
Rintihan berubah menjadi desahan. Vivi mulai menikmati tititku.
Secara pasti kupercepat gerakanku dan desahan Vivi semakin sering pula.
Setiap sodokan masuk, Vivi mendesah.
"Ah... Ah... Ah....Ah.. Ah..."
Desahan Vivi sangat sexy.
Jika hanya mendengar Vivi mendesah seperti ini saja, aku pasti terangsang.
Tetapi ini bukan mimpi... aku memang sedang menyetubuhi Vivi.
Dan desahannya adalah desahan karena menikmati permainan tititku.
Aku bahagia sekali.

"Ton.. kok jadi diperlambat... ayo dipercepat.. enak banget nih."
Lamunanku ternyata mengubah permainanku.
"Sorry Vi.. masih kaga nyangka kalo sekarang gue lagi bersetubuh ama lu."
"Iiihhh... lu bikin gue malu aja.. buruan ah ngentotnya.. pengen nyampe lagi nih."
"Ok, Vi." Kupercepat dan percepat sodokanku.

Badan Vivi semakin menegang dan semakin keras Vivi mendorong pantatnya ke belakang setiap sodokanku.
Desahan Vivi berubah menjadi teriakan kenikmatan.
"AAAAHHHH... Gue sampe lagi, Ton"
"Gue juga bentar lagi, Vi..."
Semakin cepat dan semakin cepat gerakan maju mundurku.
Kurasakan sebentar lagi aku akan meledak.
Di dalam atau di luar yah?? Di dalam atau di luar yah??
Berulang-ulang aku berpikir... belum sempat aku ambil keputusan...
"Ah.. Vi..." Crot.. Crot.. Crot...
Aku menyemprot lembah subur Vivi dengan benih cinta.

"Gila Ton.. enak banget sih dientot elu. Entar lagi yah.."
Aku masih lemas dan tititku pun belum selesai menyemprotkan air maniku, Vivi sudah minta lagi.
"Cabut dong Ton.. gue jadi geli nih."
Didorongya diriku dengan mudah.
Aku terbaring di sebelahnya dan memeluk erat.
"Thanks yah Vi.. Gue belum pernah ngerasain kenikmatan seperti ini."
"No.. no..no... Thank you, Ton. Itu barusan enak banget. Gue kayaknya nyampe berkali-kali."
Kami pun berpelukan sambil tertidur kembali.

Aku terbangun ketika sudah pukul 7 malam.
Vivi masih tertidur di sebelahku.
Masih telanjang.
Ah.. berarti tadi benar bukan mimpi. Vivi telah memberikan perawannya kepadaku.
Aku bergeser perlahan. Kebelet pipis.

Setelah aku menyelesaikan urusan kecilku, perutku menuntut perhatian.
Lapar! Wah makan apa yah?
Aku pun membuka-buka lemari dan kulkas, mencari apa yang bisa dijadikan makan malam.
Ternyata masih ada spaghetti.
Bikin Spaghetti Aglio Olio saja deh. Vivi sangat suka Aglio Olio-ku.

Aku merebus spaghetti. Iris bawang putih 3 siung.
Sosis kupotong kecil-kecil. Baso sapipun kurebus sekalian spaghetti.
Spaghetti kuangkat dan kusiram dengan air dingin.
Ini untuk menghilangkan bau spaghetti.
Kupanaskan minyak zaitun, kutumis bawang putih.
Wangi harum bawang putih memenuhi seluruh apartemen.
Sosis dan baso menyusul.
Telur pun kutaruh. Ongseng-ongseng sampai telur matang.
Spaghetti kutaruh dan kutumis sebentar.
Voila.. jadi deh Aglio Olio.
Tinggal taruh Italian herbs deh.

Vivi rupanya sudah bangun. Dia duduk di pinggir ranjang mengusap-usap matanya.
Badannya yang langsing membuat dadanya yang cukup besar terlihat seperti buah pepaya ranum siap dipetik.
"Pas banget bangunnya, Vi. Ayo makan."
"Wah.. Aglio Olio yah.. udah lama lu kaga bikin ini."
Kami pun duduk berseberangan.
Seumur-umur tidak pernah ngebanyangin makan bareng wanita cantik dan kita berdua tanpa busana.

"Servis lu luar biasa deh, Ton. Abis dientot masih dikasih makan."
"Bisa aja lu, Vi. Sekali lagi thanks yah, Vi. Lu kasih gue perawan lu."
"Iya Ton.. Gue sebenarnya kaga kepikiran sampai ke sana sih... tapi nanggung dan ternyata enak."
"Wah.. gue jadi merasa bersalah nih."
"Jangan gitu Ton.. kan gue yang ngijinin. Lagian.. menurut lu memangnya kenapa gue ajak lu tinggal bareng?"
"Hah? Maksud lu?"
"Iya..." Vivi mengunyah spaghetti di mulutnya baru melanjutkan "Gue sebenarnya naksir sama lu juga"
"Yang bener lu? Gue dari pertama kali ngeliat lu dah jatuh cinta."
"Hahahaha.. Love at first sight yah?"
"Iya.." mukaku terasa hangat karena malunya.

Vivi memang wanita yang tegas dan tahu dia mau apa.
Tidak ada yang bisa menghalanginya jika dia sudah ambil keputusan.
"Ortu gue aja sampai bingung waktu bilang mau ngekos dekat kampus. Padahal pulang ke rumah masih bisa."
"Iya.. gue juga bingung waktu lu bilang mau ngekos, Vi."
"Abis gue gemas sama lu, Ton. Dah setahun lebih kita kenalan tapi lu kaga pernah bergerak juga. Makanya gue ajak kos bareng."
"Wah.. kejebak gue...hahahahaha...tapi kejebak nikmat nih."
"Awas lu yah, Ton." Vivi mencubit lenganku dengan gemasnya.
"Oww.. Sakit..."
"Pasti kalah deh sakitnya pas lu jebolin gue. Gila sakit banget tadi."
Vivi bangun dan terus mencubit-cubit lenganku.

Aku melarikan diri ke kamar dan Vivi mengejarku.
Aku menjatuhkan diri ke atas ranjang.
Vivi menyergapku dan duduk tepat di atas tititku.
"Wow.. sudah keras lagi, Ton? Mau maen lagi?"
Aku hanya bisa menganggukkan kepala menanti kenikmatan.
Vivi memegang tititku dan mengarahkannya ke memeknya yang rupanya juga sudah basah kembali.
Masih sedikit sulit masuk karena memang memek yang baru pertama kali dibolongin masih cukup rapat.
Perlahan-lahan Vivi mulai menurunkan badannya, membuat tititku semakin tenggelam, menghilang di dalam kolam kenikmatan.

Vivi mulai menggerakkan pinggulnya. Maju mundur.
Buah dadanya bergoyang dengan anggunnya.
Pemandangan yang sangat indah membuatku ingin menghisapnya.
Aku mengubah posisi sehingga bisa menggapai dada Vivi dan menggiringnya ke mulutku.
Lembut, kenyal, besar dan halus.
Reaksi Vivi langsung berubah lebih beringas.
Rupanya titik rangsangnya berada di payudara.
Semakin kuhisap dengan kencang, semakin Vivi gelagapan.
Pentil pinknya kumainkan kembali dengan lidah dan Vivi semakin menjadi-jadi.
Tiba-tiba badannya melengkung ke depan membuatku tersekap oleh payudara besarnya.
Rupanya Vivi telah sampai lagi.

Vivi kelelahan dan merebahkan diri ke ranjang.
Aku yang dibuatnya jadi tanggung tidak mau membiarkan Vivi beristirahat.
Posisi missionaris membuatku bisa beraksi dan Vivi beristirahat.
Tititku pun masih mengalami kesulitan masuk. Benar-benar masih rapat.
Perlahan-lahan mulai kugarap.
"Vi.. lu benar-benar sexy deh. Cantik dan baik hati"
"Gombal lu, Ton."
"Beneran lagi, Vi"
Muka Vivi menjadi merah dan kakinya segera melingkari pinggulku.
Membuat tititku semakin dalam menancap liang kewanitaannya.
Keluar masuk dengan lembut, karena aku masih merasakan memek Vivi belum terbiasa dengan tititku.
Perlahan dan pasti aku semakin mempercepat gerakanku.
Dan akhirnya aku pun menyemprot kembali di dalam rahim Vivi. Crot.. Crot...

"Hangat, Ton... Enak.."
"Apanya yang hangat, Vi?"
"Itu sperma lu. Berasa hangat dan mengalir ke dalam gue."
Vivi segera mengambil bantal dan mengganjal pinggulnya.
Aku tidak mengetahui maksudnya ini.
Baru dua bulan kemudian Vivi memberitahuku kalau dia hamil.
Dia tidak mendapatkan mens dan pergi memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya positif hamil.
Wah.. aku bahagia sekali.. walaupun belum lulus kuliah tetapi sudah bisa menjadi ayah.
Memang aku tinggal sidang skripsi sebelum lulus tetapi tawaran kerja dari tempat magangku memastikan posisiku di perusahaan setelah aku lulus.
Aku siap untuk bertanggung jawab.

Ortu Vivi memang sudah siap kalau Vivi hamil. Mereka sudah siap sejak Vivi tinggal bersamaku.
Kata mereka, "Vivi keras kepala dan memang sudah naksir kamu sejak dulu."
"Begitu mau tinggal bareng kamu, kami jelaskan resikonya. Terus dia bilang memang mau kawin sama kamu."
Vivi merah padam ketika cerita ini disampaikan.
"Anton.. kami berdua sungguh lega kalau kamu mau bertanggung jawab. Kapan pernikahannya? Jangan lama-lama.
Nanti perut Vivi sudah terlalu besar. Kalo akhir bulan bagaimana?"
"Akhir bulan, Om? Cepat juga yah.. tapi saya belum ada modal untuk pesta, Om. Nikah tamasya aja yah?"
"Tidak masalah nikah tamasya. Orang tua kamu sudah tahu?"
"Belum, Om. Rencananya setelah ini saya akan segera pulang kampung dua hari bersama Vivi."
"Bagus kalau begitu."

Kami pun melangsungkan pesta pernikahan sederhana, hanya keluarga dan teman-teman dekat.
Vivi terlihat manis dalam gaun pengantin putih Ivory.
Dadanya terlihat siap menyembul keluar.
Memang kami sengaja memilih gaun yang menguatkan aksen sexy Vivi.
Bahkan pada saat lempar bunga, bukan bunga yang dilemparkan.
Vivi merogoh ke roknya dan menarik celana dalam G-String putihnya.
Dilemparkan ke teman-teman pria yang benar-benar barbar berebutan.
Kami tertawa bersama melihat kejadian itu.
Malam harinya kami habiskan dengan sex berbagai posisi.

Kami telah menikah selama 5 tahun dan sudah mempunyai 2 orang anak sekarang.
Kami masih tertawa membicarakan kejadian awal pacaran singkat dan langsung menikah ini. 6100game

SUSAN

SUHU DOMINO
6100game - Susan ,saya mengenal dia sejak kecil, memang dari kecil dia sudah terlihat cantik, putih, berambut sebahu dengan rambut kemerahan, mata bening dan bulat, bibir yang mungil dan merekah, body yang montok dan sexy. Sifatnya yang manja, cuek namun bisa galak juga terhadap cowoq iseng.

Sejak saya pindah ke kota B saya jarang bertemu dengan dia, sampai setelah 5 tahun tiba-tiba dia meneleponku.
"Ko Andi, ini Susan, masih inget gak? San sekarang ada di B, mau kuliah sambil cari kerja"
"Oh, Susan... gile udah gede ya sekarang udah mau kuliah ya? tinggal dimana nih?"
"San, kos di daerah C, San pengin ketemu ko Andi nih kangennn..." sambil bersuara manja.
"Oke, nanti saya mampir deh, telponnya berapa?".
Setelah berbasa-basi sebentar saya tutup telponnya. Hm... terbayang deh.. gadis yang sering menggoda saya pada waktu itu, hanya saya tidak mau menanggapi karena selain masih kecil juga dia adalah adik teman saya.

Dua hari setelah telepon itu, saya datang ketempat kos dia, Susan seneng banget tuh.. senyumnya sumringah... "Ko... (dg suara manja), kamar San kecil, jadi maklum ya berantakan, sini ko masuk duduk didalam aja...".
Memang ukuran kamarnya lumayan sempit, tapi bersih dan cukup teratur sih...
Tiba-tiba dia nanya, "Ko.. (manja lagi dah suaranya..) koko kangen gak sih sama Susan?".
Saya cuma senyum..., "Memangnya kenapa San?"
"Gak apa-apa sih cuma kangen aja pengin ketemu, pengin ngobrol banyak sama Koko".

"Oh..." gumam saya sambil senyum (boleh dibilang saya termasuk grogi sama ceweq manja dan agresive).
Lalu saya ajak dia pergi makan malam, dan ngobrol sampai malam, kira-kira pk. 22.00 saya pamit pulang.
"Oke San saya pulang dulu ya, udah malam... "
"Iya deh Ko, besok mau datang lagi?"
"Lihat besok deh, bisa apa gak.. soalnya besok sabtu saya suka males pergi ada siaran sepakbola sih...".
Tiba-tiba dia mendekat dan... crup... dia mencium pipi saya... ops.. saya kaget juga... sambil cengengesan dia juga senyum... manis banget deh...

"Gak apa-apa kan San sun Koko... abis udah kangen banget sih...".
Saya cuma mesem aja... gile juga nih anak agresive banget.. dalam hati sih pengin juga tuh saya sosor bibirnya yang menantang terus apalagi payudaranya makin ranum dan besar... hm... timbul dah pikiran ngeres... Sejak kejadian dia mencium pipi saya, terus terang saya jadi agak kikuk karena gak menyangka dia koq jadi agresive, dan manja banget sama saya, saya jadi agak risih dan menjadi gak enak mengingat dia adalah adik teman saya dan membuat saya jadi agak sungkan untuk bertemu dia lagi, selalu ada alasan sibuk kerja, ada acara, dll apabila dia ingin bertemu dan meminta saya datang ke tempat kosnya. Sampai 3 bulan berlalu, tiba2 dia datang ke tempat kos ku bersama seorang cowoq,

"Hallo Ko Andi, ini Susan kenalin... namanya Bobby..."
"Pacar nih?", bisik ku di dekat telinga Susan...
"Temen lah... tapi dianya sering tuh main ke kos San.."
"Trus ngapain di bawa kesini? Ntar dia cemburu loh.."
"Cemburu? Ya diputus aja.. memang San suka ama dia?"
"Gak juga.. cuma temen aja mau antar-antar San pergi, oh ya ini Ko Andi, San bawain makanan buat koko, San tahu dah kalau udah sabtu begini Ko Andi jarang keluar kos"
"Thanks San, San sendiri udah makan?"
"Udah Ko, tapi San temenin Koko makan deh..", dia lalu ambil piring, sendok garpu dan gelas minuman diatas kulkas.
Memang kamar kos saya termasuk komplit, ada kulkas, kamar mandi dalam, TV, VCD, audio music, komputer, dll. Sementara saya makan, si Bobby menunggu di luar kamar.

"Udah deh San, sana kamu temenin dia pergi jalan-jalan lagi.. kasihan kan nunggu diluar.."
"Ach.. biarin aja Ko... kalau mau sama Susan ya kudu nurut dong..."
Ich.. susah bener deh ngomongin ini anak... Akhirnya setelah menunggu kira-kira 1 jam, Susan pun pamit pergi dengan Bobby. Ach...lega deh udah gak ada yang gangguin lagi... Setelah nonton siaran langsung saya udah ngantuk berat, kira-kira pukul 23.30 saya siap tidur, lampu kamar sudah dimatikan, dan saya sudah menarik selimut, tiba-tiba pintu kamar diketok perlahan... tok.. tok.. siapa sih malam-malam begini masih gangguin? dalam hati saya..., dengan agak malas saya buka pintu, ternyata... Susan yang datang.. sambil senyum...

"Lho.. koq balik lagi San? tanyaku heran..." DOMINO QQ
"Mana Bobby?"
"Dia marah Ko, tadi San sama dia habis ribut... cemburu tuh.. lalu di jalan San turun dah dan naik taxi ke sini, biar dia nyariin ke kos mas bodo dah.., San mau nginap disini ya Ko, boleh kan?" rayunya dengan manjaaaa banget...
Duh... gimana nih.. koq mau nginap? saya cuma terpaku diam saja.. bingung.. mau saya tolak kasihan, mau diantarin pulang ke kosnya udah malem males juga.

Malam itu Susan mengenakan sweater biru tua ketat dengan kragh yang menutupi lehernya, dibalut dengan jeans biru ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang sangat proporsional, ditambah payudaranya yang menonjol jelas sekali, pinggang yang ramping plus pantatnya yang ketat dan sexy, ugh.. membayang dia telanjang udah tegang anuku.

"Ko, San pinjem kaos dan celana pendek dong supaya tidurnya enak".
Lalu saya pinjamkan kaos dan celana bola yang ada karetnya. Tiba-tiba dia membuka sweaternya.. glek.. glek... saya menelan ludah melihat dada yang putih mulus dan terlihat dengan jelas 2 bh gundukan dada yang putih, besar dan montok dibalut dengan bh berwarna cream, lalu saya cepat-cepat melengos dan pura-pura ke kamar mandi, dari balik kunci pintu saya intip dia mulai melepaskan celana jeans dan bhnya, ugh... tambah tegang aja nih anuku... buset dah kaki dan pahanya mulus banget.. kaki jenjang putih, celana dalam hitam model mini. Anuku tegang terus sampai susah untuk buang air kecil.

"San, tidur deh udah malam" sahutku sambil membaringkan badan di kasur yang ada dilantai.
Susan juga mulai membaringkan badan di ranjang diatasku.
"Ko, tidur di atas aja deh.. di lantai kan dingin"
"Ach gak apa-apa San, takut kejadian macem-macem", sahutku sambil membuang muka saya ke arah berlawanan dari ranjang dia.
Tiba-tiba dia merosotkan tubuhnya ke badanku dan langsung mencium bibirku dengan cepat sekali... sruppp... ach.. saya kaget dan reflek melepaskan diri, namun tanpa bicara apa-apa lagi dia mulai mencium bibirku lagi kali ini lebih ganas.. bibirku dan lidahku dikulumnya dengan ganas.. ach... anuku makin tegang... akhirnya aku tak kuasa menahan serangan ciuman itu dan membalas dengan ganas juga, aku cium bibir bawahnya, lidahnya... ah.. nikmat sekali ciumannya... dia menciumku sambil memejamkan matanya... kami berciuman cukup lama, lama-kelamaan aku semakin bernafsu, darah semakin mendidih, badan menjadi semakin panas, anuku semakin tegang apalagi buah dadanya menempel didadaku, lalu aku membalikan tubuhnya di bawahku, dan aku kembali menciumi bibirnya semakin ganas,

"Oh.. ko enak..." lenguhnya...
Lalu aku mulai menciumin lehernya yang jenjang dan mulus, kuciumi juga telinganya... dia menggelinjang dengan geli, lalu dari leher aku mulai menciumi dadanya yang masih tetap memakai kaos, terasa sekali betapa empuk dan besar payudaranya.. kuciumi ujung putingnya yang semakin mengeras, sambil terus kuciumi putingnya, tanganku mulai merogoh kedalam kaosnya, dan menyentuh payudaranya yang telah menghangat, ah..empuk sekali dan besar.. kuremas-remas dengan lembut payudara kanannya sedangkan payudara kiri tetap saya ciumi, tiba2 dia membuka kaosnya dan membiarkan saya melahap payudaranya dengan bebas merdeka tanpa halangan apa-apa lagi, kuremas-remas bergantian ke 2 payudaranya itu, betapa mulus dan putih sekali kulit dadanya, putingnya masih kecil dan merah, lingkaran susunya masih kecil dan merah, kuciumi dan kujilat bergantian ke 2 puting susunya.. sambil meremas dengan lembut.

Susan hanya melenguh perlahan dan tetap memejamkan matanya menikmati ciumanku. Lalu perlahan-lahan tanganku mulai merabai pahanya, ku usap- usap dengan lembut paha kanannya tetapi ciuman ke puting tetap berlanjut, lalu rabaanku mulai naik ke arah pangkal pahanya, dan kupegang gundukan mungil ditengah2 pangkal pahanya, dengan jari2ku kuusap dan kugesek-gesek bibir kemaluannya, terasa basah celana dalamnya yang super mini itu, lalu jariku mulai memasuki celananya dan jariku menyentuh bulu-bulu tipis di sekitar vaginanya, terasa ada cairan lendir hangat pada jariku, lalu aku mulai menciumi perutnya, pahanya dan kulorotkan celana pendeknya dan kucium terus pangkal pahanya, lidahku menjilati seluruh paha dan pangkalnya, dan dengan perlahan kutarik perlahan celana dalamnya... dan ah... terlihat vaginanya yang masih mungil, rambutnya masih jarang dan tipis lembut, kucium perlahan bibir vaginanya, dan lidahku mulai menjilati bibir vaginanya dan terus masuk ke dinding vaginanya yang mulai basah dan berlendir.. lidahku terus bermain-main dengan enaknya, tiba-tiba Susan melenguh keras

"...ach.. Ko.. ach..." rupanya dia sudah orgasme..
Memang terasa semakin basah vaginanya... terasa sedikit kasat dan asin...
"Ko, masukin dong.."
Aku kaget... sejak berciuman Susan tidak mengucapkan sepatah katapun..
"Kamu pernah melakukannya San?" tanyaku sambil menghentikan serangan lidahku..
Susan menggelengkan kepalanya... oh my God... dia masih perawan rupanya..
"Kamu belum pernah San? bener nih? tanyaku tidak percaya..."
"Iya ko, San belum pernah, kalau ciuman sih pernah sama pacar, dan tadi koko ciumin dan rangsangin enak sekali, San pengin coba dimasukin ko"

Saya jadi langsung sadar dan anuku langsung mengkerut dan tidak tegang lagi, langsung nalarku sadar...
"Gak ach San, kamu masih perawan, bagus untuk calon suami San saja, sorry ya San, koko tadi bernafsu sekali dan udah bikin San jadi terangsang.." aku jadi malu sendiri, karena walau Susan bukan pacarku tapi dia adalah adik temanku dan kami saling mengenal keluarganya.

"Gak apa apa ko., aku sayang sama koko dari dulu .."Susan mau kasih hanya untuk yang susan sayang aja. "
Dengan terpaksa dan keadaan yang mendesak aku perawanin dia.
Ku gesek gesekan penis ku ke vagina susan dan susan mendesah keenakan.," aghhh terus ko teruss ko enakk bangett ."
"San tahan yaa mungkin awal nya sakit tapi nanti enak kok." sambil ku cium susan dan ku coba bobol vagina nya secara perlahan.
" Aghhh sakitt ko, lalu aku cobaa untuk menaikan napsu susan dengan menghisap puting nya sambil ku tekan lagi penis ku. "
Akhirnya masuk dan susan terlihat kesakitan , dia menggigit bibir nya ..
Ku goyangkan penis ku perlahan dan lama lama susan terlihat sudah menikmati nya.
5 menit ku bermain di dalam vagina nya dan susan tiba tiba makin mencengkram ku dan diaa teriakk akuu keluarr ko, aghhh aghhhh..
Tidak lama dia keluar ku rasakan penis ku ingin menyemburkan sperma ke vagina nya dan tidak lama croot crott , ku semprotkan sperma ku di dalam vagina nya sambil ku cium dia.
"Terima Kasih susan sayang kamu mau menyerahkan keperawanan kamu buat koko"
Esok paginya aku antarkan dia pulang ke kosnya, sejak kejadian itu aku selalu menghindar untuk bertemu dan paling melalui telepon aku menasehati dia untuk menjadi seorang pacar yang baik dan setia. Yah.. sekarang Susan sudah menjadi seorang ibu 1 anak perempuan, pada saat dia menikah saya tidak bisa hadir karena berada di luar kota.. namun hubungan kami tetap baik... dan kadang-kadang timbul juga sih keinginan untuk bermain dengan dia... ach... memang indah dan mulus sekali tubuh Susan dan pengalaman ini tak mudah untuk dilupakan...SUHU DOMINO



Saturday, February 1, 2020

SI DOSEN NAKAL

SUHU DOMINO
Saya dilahirkan di kota Pekanbaru di propinsi sumatera, kota yang panas karena terletak di dataran rendah. Selain tinggi badan seukuran orang-orang bule, kata temanku wajahku lumayan. Mereka bilang Saya hitam manis. Sebagai laki-laki, Saya juga bangga karena waktu SMA dulu Saya banyak memiliki teman-teman perempuan. Walaupun Saya sendiri tidak ada yang tertarik satupun di antara mereka. Mengenang saat-saat dulu Saya kadang tersenyum sendiri, karena walau bagaimanapun kenangan adalah sesuatu yang berharga dalam diri kita. Apalagi kenangan manis.

Sekarang Saya belajar di salah satu perguruan tinggi swasta di kota S, mengambil jurusan ilmu perhotelan. Saya duduk di tingkat akhir. Sebelum berangkat dulu, orangtua Saya berpesan harus dapat menyelesaikan studi tepat pada waktunya. Maklum, keadaan ekonomi orangtuSaya juga biasa-biasa saja, tidak kaya juga tidak miskin. Apalagi Saya juga memiliki 3 orang adik yang nantinya juga akan kuliah seperti Saya, sehingga perlu biaya juga. Saya camkan kata-kata orangtuSaya. Dalam hati Saya akan berjanji akan memenuhi permintaan mereka, selesai tepat pada waktunya.

Tapi para pembaca, sudah kutulis di atas bahwa segala sesuatu yang terjadi pada Saya tanpa Saya dapat menyadarinya, sampai saat ini pun Saya masih belum dapat menyelesaikan studiku hanya gara-gara satu mata kuliah saja yang belum lulus, yaitu mata kuliah yang berhubugan dengan hitung berhitung. Walaupun sudah kuambil selama empat semester, tapi hasilnya belum lulus juga. Untuk mata kuliah yang lain Saya dapat menyelesaikannya, tapi untuk mata kuliah yang satu ini Saya benar-benar merasa kesulitan.

"Coba saja kamu konsultasi kepada dosen pembimbing akademis..," kata temanku Andi ketika kami berdua sedang duduk-duduk dalam kamar kost. "Sudah, Di. Tapi beliau juga lepas tangan dengan masalahku ini. Kata beliau ini ditentukan oleh dirimu sendiri." Kata Saya sambil menghisap rokok dalam-dalam. "Benar juga apa yang dikatakan beliau, Gi, semua ditentukan dari dirimu sendiri."sahut Andi sambil termangu, tangannya sibuk memainkan korek api di depannya. Lama kami sibuk tenggelam dalam pikiran kami masing-masing, sampai akhirnya Andi berkata, "Gini saja, Gi, kamu langsung saja menghadap dosen mata kuliah itu, ceritakan kesulitanmu, mungkin beliau mau membantu." kata Andi.

Mendengar perkataan Andi, seketika Saya langsung teringat dengan dosen mata kuliah yang menyebalkan itu. Namanya Ibu Frisca, umurnya kira-kira 31 tahun. Orangnya lumayan cantik, juga seksi, tapi banyak temanku begitu juga Saya mengatakan Ibu Frisca adalah dosen killer, banyak temanku yang dibuat sebal olehnya. Maklum saja Ibu Frisca belum berkeluarga alias masih sendiri, perempuan yang masih sendiri mudah tersinggung dan sensitif.

"Waduh, Di, bagaimana bisa, dia dosen killer di kampus kita..," Kata Saya bimbang. "Iya sih, tapi walau bagaimanapun kamu harus berterus terang mengenai kesulitanmu, bicaralah baik-baik, masa beliau tidak mau membantu..," kata Andi memberi saran. Saya terdiam sejenak, berbagai pertimbangan muncul di kepala Saya. Dikejar-kejar waktu, pesan orang tua, dosen wanita yang killer. Akhirnya Saya berkata, " Baiklah Di, akan kucoba, besok Saya akan menghadap beliau di kampus." "Nah begitu dong, segala sesuatu harus dicoba dulu," sahut Andi sambil menepuk-nepuk pundakku.

Siang itu Saya sudah duduk di kantin kampus dengan segelas es teh di depanku dan sebatang rokok yang menyala di tanganku. Sebelum bertemu Ibu Frisca Saya sengaja bersantai dulu, karena bagaimanapun nanti Saya akan gugup menghadapinya, Saya akan menenangkan diri dulu beberapa saat. Tanpa Saya sadari, tiba-tiba Andi sudah berdiri di belakangku sambil menepuk pundakku, sesaat Saya kaget dibuatnya.

"Ayo Chris, sekarang waktunya. Bu Frisca kulihat tadi sedang menuju ke ruangannya, mumpung sekarang tidak mengajar, temuilah beliau..!" bisik Andi di telingSaya. "Oke-oke,"Kata Saya singkat sambil berdiri, menghabiskan sisa es teh terakhir, kubuang rokok yang tersisa sedikit, kuambil permen dalam sSaya, kutarik dalam-dalam nafasku. Saya langsung melangkahkan kaki. "Kalau begitu Saya duluan ya, Chris. Sampai ketemu di kost," sahut Andi sambil meninggalkanku. Saya hanya dapat melambaikan tangan saja, karena pikiranku masih berkecamuk bimbang, bagaimana Saya harus menghadapai Ibu Frisca, dosen killer yang masih sendiri itu.

Perlahan Saya berjalan menyusupi lorong kampus, suasana sangat lengang saat itu, maklum hari Sabtu, banyak mahasiswa yang meliburkan diri, lagipula kalau saja Saya tidak mengalami masalah ini lebih baik Saya tidur-tiduran saja di kamar kost, ngobrol dengan teman. Hanya karena masalah ini Saya harus bersusah-susah menemui Bu Frisca, untuk dapat membantuku dalam masalah ini.

Kulihat pintu di ujung lorong. Memang ruangan Bu Frisca terletak di pojok ruangan, sehingga tidak ada orang lewat simpang siur di depan ruangannya. Kelihatan sekali keadaan yang sepi. Pikirku, "Mungkin saja perempuan yang belum bersuami inginnya menyendiri saja." Perlahan-lahan kuketuk pintu, sesaat kemudian terdengar suara dari dalam, "Masuk..!" Saya langsung masuk, kulihat Bu Frisca sedang duduk di belakang mejanya sambil membuka-buka map. Kutup pintu pelan-pelan. Kulihat Bu Frisca memandangku sambil tersenyum, sesaat Saya tidak menyangka beliau tersenyum ramah padSaya. Sedikit demi sedikit Saya mulai dapat merasa tenang, walaupun masih ada sedikit rasa gugup di hatiku.

"Silakan duduk, apa yang bisa Ibu bantu..?"Bu Frisca langsung mempersilakan Saya duduk, sesaat Saya terpesona oleh kecantikannya. Bagaimana mungkin dosen yang begitu cantik dan anggun mendapat julukan dosen killer. Kutarik kursi pelan-pelan, kemudian Saya duduk. "Oke, Christoper, ada apa ke sini, ada yang bisa Ibu bantu..?" sekali lagi Bu Frisca menanyakan hal itu kepadSaya dengan senyumnya yang masih mengembang. Perlahan-lahan kuceritakan masalahku kepada Bu Frisca, mulai dari keinginan orangtua yang ingin Saya agak cepat menyelesaikan studiku, sampai ke mata kuliah yang saat ini Saya belum dapat menyelesaikannya.

Kulihat Bu Frisca dengan tekun mendengarkan cerita saya sambil sesekali tersenyum kepada saya. Melihat keadaan yang demikian Saya bertambah semangat bercerita, sampai pada akhirnya dengan spontan Saya berkata, "Apa saja akan kulakukan bu untuk dapat menyelesaikan mata kuliah ini. Mungkin suatu saat membantu Ibu membersihkan rumah, contohnya mencuci piring, mengepel, atau yah, katakanlah mencuci baju pun Saya akan melakukannya demi agar mata kuliah ini dapat saya selesaikan. Saya mohon sekali, berikanlah keringanan nilai mata kuliah Ibu pada saya.


Mendengar kejujuran dan perkataanku yang polos itu, kulihat Bu Frisca tertawa kecil sambil berdiri menghampiriku, tawa kecil yang kelihatan misterius, dimana Saya tidak dapat mengerti apa maksudnya. "Apa saja Christoper?"kata Bu Frisca seakan menegaskan perkataanku tadi yang secara spontan keluar dari mulutku tadi dengan nada bertanya. "Apa saja Bu !" kutegaskan sekali lagi perkataanku dengan spontan.

Sesaat kemudian tanpa kusadari Bu Frisca sudah berdiri di belakangku, ketika itu Saya masih duduk di kursi sambil termenung. Sejenak Bu Frisca memegang pundakku sambil berbisik di telingSaya. "Apa saja kan Christoper?"Saya mengangguk sambil menunduk, saat itu Saya belum menyadari apa yang akan terjadi. Tiba-tiba saja dari arah belakang, Bu Frisca sudah menghujani pipiku dengan ciuman-ciuman lembut, sebelum sempat Saya tersadar apa yang akan terjadi. Bu Frisca tiba-tiba saja sudah duduk di pangkuanku, merangkul kepala Saya, kemudian melumatkan bibirnya ke bibirku. Saat itu Saya tidak tahu apa yang harus kulSayakan, seketika kedua tangan Bu Frisca memegang kedua tanganku, lalu meremas-remaskan ke payudaranya yang sudah mulai mengencang.

Saya tersadar, kulepaskan mulutku dari mulutnya."Bu, haruskah kita."Sebelum Saya menyelesaikan ucapanku, telunjuk Bu Frisca sudah menempel di bibirku, seakan menyuruhku untuk diam. "Sudahlah Christoper, inilah yang Ibu inginkan." Setelah berkata begitu, kembali Bu Frisca melumat bibirku dengan lembut, sambil membimbing kedua tanganku untuk tetap meremas-remas payudaranya yang montok karena sudah mengencang.

Akhirnya timbul hasrat kelelakianku yang normal, seakan terhipnotis oleh reaksi Bu Frisca yang menggairahkan dan ucapannya yang begitu pasrah, kami berdua tenggelam dalam hasrat seks yang sangat menggebu-gebu dan panas. Saya membalas melumat bibirnya yang indah merekah sambil kedua tanganku terus meremas-remas kedua payudaranya yang masih tertutup oleh baju itu tanpa harus dibimbing lagi. Tangan Bu Frisca turun ke bawah perutku, kemudian mengusap-usap kemaluanku yang sudah mengencang hebat. Dilanjutkan kemudian satu-persatu kancing-kancing bajuku dibuka oleh Bu Frisca, secara reflek pula Saya mulai membuka satu-persatu kancing baju Bu Frisca sambil terus bibirku melumat bibirnya.

Setelah dapat membuka bajunya, begitu pula dengan bajuku yang sudah terlepas, gairah kami semakin memuncak, kulihat kedua payudara Bu Frisca yang memakai BH itu mengencang, payudaranya menyembul indah di antara BH-nya. Kuciumi kedua payudara itu, kulumat belahannya, payudara yang putih dan indah. Kudengar suara Bu Frisca yang mendesah-desah merasakan kFriscakmatan yang kuberikan. Kedua tangan Bu Frisca mengelus-elus dadSaya yang bidang. Lama Saya menciumi dan melumat kedua payudaranya dengan kedua tanganku yang sesekali meremas-remas dan mengusap-usap payudara dan perutnya.

Akhirnya kuraba tali pengait BH di punggungnya, kulepaskan kancingnya, setelah lepas kubuang BH ke samping. Saat itu Saya benar-benar dapat melihat dengan utuh kedua payudara yang mulus, putih dan mengencang hebat, menonjol serasi di dadanya. Kulumat putingnya dengan mulutku sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang lain. Puting yang menonjol indah itu kukulum dengan penuh gairah, terdengar desahan nafas Bu Frisca yang semakin menggebu-gebu. "Oh.., oh.., Christoper.. teruskan.., teruskan Christoper..!" desah Bu Frisca dengan pasrah dan memelas. Melihat kondisi seperti itu, kejantananku semakin memuncak. Dengan penuh gairah yang mengebu-gebu, kedua puting Bu Frisca kukulum bergantian sambil kedua tanganku mengusap-usap punggungnya, kedua puting yang menonjol tepat di wajahku. Payudara yang mengencang keras.

"Angkat Saya ke atas meja Christoper, ayo angkat Saya.!"Spontan kubopong tubuh Bu Frisca ke arah meja, kududukkan, kemudian dengan reflek Saya menyingkirkan barang-barang di atas meja. Map, buku, pulpen, kertas-kertas, semua kujatuhkan ke lantai dengan cepat, untung lantainya memakai karpet, sehingga suara yang ditimbulkan tidak terlalu keras.

Masih dalam keadaan duduk di atas meja dan Saya berdiri di depannya, tangan Bu Frisca langsung meraba sabukku, membuka pengaitnya, kemudian membuka celana saya dan menjatuhkannya ke bawah. Serta-merta Saya segera membuka celana dalamku, dan melemparkannya ke samping. Kulihat Bu Frisca tersenyum dan berkata lirih, "Oh.. Christoper.., betapa jantannya kamu.. kemaluanmu begitu panjang dan besar.. Oh.. Christoper, Saya sudah tak tahan lagi untuk merasakannya." Saya tersenyum juga, kuperhatikan tubuh Bu Frisca yang setengah telanjang itu.

Kemudian sambil kurebahkan tubuhnya di atas meja dengan posisi Saya berdiri di antara kedua pahanya yang telentang dengan rok yang tersibak sehingga kelihatan pahanya yang putih mulus, kuciumi payudaranya, kulumat putingnya dengan penuh gairah, sambil tanganku bergerilya di antara pahanya. Saya memang menginginkan pemanasan ini agak lama, kurasakan tubuh kami yang berkeringat karena gairah yang timbul di antara Saya dan Bu Frisca. Kutelusuri tubuh Bu Frisca yang setengah telanjang dan telentang itu mulai dari perut, kemudian kedua payudaranya yang montok, lalu leher. Kudengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan pasrah dari mulut Bu Frisca.

Sampai ketika Bu Frisca menyuruhku untuk membuka roknya, perlahan-lahan kubuka kancing pengait rok Bu Frisca, kubuka restletingnya, kemudian kuturunkan roknya, lalu kujatuhkan ke bawah. Setelah itu kubuka dan kuturunkan juga celana dalamnya. Seketika hasrat kelelakianku semakin menggebu-gebu demi melihat tubuh Bu Frisca yang sudah telanjang bulat, tubuh yang indah dan seksi, dengan gundukan daging di antara pahanya yang ditutupi oleh rambut yang begitu rimbun. Terdengar Bu Frisca berkata pasrah, "Ayolah Christoper.., apa yang kau tunggu..? Ibu sudah tak tahan lagi."

Kurasakan tangan Bu Frisca menggenggam kemaluanku, menariknya untuk lebih mendekat di antara pahanya. Saya mengikuti kemauan Bu Frisca yang sudah memuncak itu, perlahan tapi pasti kumasukkan kemaluanku yang sudah mengencang keras layaknya milik kuda perkasa itu ke dalam vagina Bu Frisca. Kurasakan milik Bu Frisca yang masih agak sempit. Akhirnya setelah sedikit bersusah payah, seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam vagina Bu Frisca. Terdengar Bu Frisca merintih dan mendesah,"Oh.., oh.., Christoper.. terus Christoper.. jangan lepaskan Christoper.. Saya mohon..!"Tanpa pikir panjang lagi disertai hasratku yang sudah menggebu-gebu, kugerakkan kedua pantatku maju-mundur dengan posisi Bu Frisca yang telentang di atas meja dan Saya berdiri di antara kedua pahanya.

Mula-mula teratur, seirama dengan goyangan-goyangan pantat Bu Frisca. Sering kudengar rintihan-rintihan dan desahan Bu Frisca karena menahan kFriscakmatan yang amat sangat. Begitu juga Saya, kuciumi dan kulumat kedua payudara Bu Frisca dengan mulutku. Kurasakan kedua tangan Bu Frisca meremas-remas rambutku sambil sesekali merintih, "Oh.. Christoper.. oh.. Christoper.. jangan lepaskan Christoper, kumohon..!" Mendengar rintihan Bu Frisca, gairahku semakin memuncak, goyanganku bertambah ganas, kugerakkan kedua pantatku maju-mundur semakin cepat. Terdengar lagi suara Bu Frisca merintih, "oh.. Christoper.. kamu memang perkasa.., kau memang jantan.. Christoper.. Saya mulai keluar.. oh..!"Ayolah Bu.., ayolah kita mencapai puncak bersama-sama, Saya juga sudah tak tahan lagi,"keluhku.

Setelah berkata begitu, kurasakan tubuhku dan tubuh Bu Frisca mengejang, seakan-akan terbang ke langit tujuh, kurasakan cairan kenikmatan yang keluar dari kemaluanku, semakin kurapatkan kemaluanku ke vagina Bu Frisca. Terdengar keluhan dan rintihan panjang dari mulut Bu Frisca, kurasakan juga bibirnya digigit oleh Bu Frisca, seakan-akan menahan kenikmatan yang amat sangat. "Oh.. Christoper.. oh.. oh.. oh." Setelah kukeluarkan cairan dari kemaluanku ke dalam vagina Bu Frisca, kurasakan tubuhku yang sangat kelelahan, kutelungkupkan badanku di atas badan Bu Frisca dengan masih dalam keadan telanjang, agak lama Saya telungkup di atasnya.

Setelah kurasakan kelelahanku mulai berkurang, Saya langsung bangkit dan berkata, "Bu, apakah yang sudah kita lakukan tadi..?" Kembali Bu Frisca memotong pembicaraanku, "Sudahlah Christoper, yang tadi itu biarlah terjadi karena kita sama-sama menginginkannya, sekarang pulanglah dan ini alamat Ibu, Ibu ingin cerita banyak kepadamu, kamu mau kan..?"Setelah berkata begitu, Bu Frisca langsung menyodorkan kartu namanya kepada saya. Kuterima kartu nama yang berisi alamat itu.

Sejenak kutermangu, kembali Saya dikagetkan oleh suara Bu Frisca, "Christoper, pulanglah, pakai kembali pakaianmu..!" Tanpa basa-basi lagi, Saya langsung mengenakan pakaianku, kemudian membuka pintu dan keluar ruangan. Dengan gontai Saya berjalan keluar kampus sambil pikiranku berkecamuk dengan kejadian yang baru saja terjadi antara Saya dengan Bu Frisca. Saya telah bermain cinta dengan dosen killer itu. Bagaimana itu bisa terjadi, semua itu diluar kehendakku. Akhirnya walau bagaimanapun nanti malam Saya harus ke rumah Bu Frisca.

Kudapati rumah nya dengan tanaman dan bunga di halaman depan yang tertata rapi, serasi sekali keadannya. Langsung kupencet bel di pintu, tidak lama kemudian Bu Frisca sendiri yang membukakan pintu, kulihat Bu Frisca tersenyum dan mempersilakan Saya masuk ke dalam. Kuketahui ternyata Bu Frisca hidup sendirian di rumah ini. Setelah duduk, kemudian kami pun mengobrol. Setelah sekian lama mengobrol, akhirnya kuketahui bahwa Bu Frisca selama ini banyak dikecewakan oleh laki-laki yang dicintainya. Semua laki-laki itu hanya menginginkan tubuhnya saja bukan cintanya. Setelah bosan, laki-laki itu meninggalkan Bu Frisca. Lalu dengan jujur pula dia meminta jatah selama saya  masih menyelesaikan studi, Saya dimintanya untuk menjadi teman sekaligus kekasihnya. Akhirnya Saya mulai menyadari bahwa posisiku tidak beda dengan gigolo.

Kudengar Bu Frisca berkata, "Selama kamu masih belum wisuda, tetaplah menjadi teman dan kekasih Ibu. Apa pun permintaanmu kupenuhi, uang, nilai mata kuliahmu agar lulus, semua akan Ibu penuhi, mengerti kan Christoper..?" Selain melihat kesendirian Bu Frisca tanpa ada laki-laki yang dapat memuaskan hasratnya, Saya pun juga mempertimbangkan kelulusan nilai mata kuliahku. Akhirnya Saya pun bersedia menerima tawarannya.

Akhirnya malam itu juga Saya dan Bu Frisca kembali melakukan apa yang kami lakukan siang tadi di ruangan Bu Frisca, di kampus. Tetapi bedanya kali ini Saya tidak canggung lagi melayani Bu Frisca dalam bercinta. Kami bercinta dengan hebat malam itu, 3 kali semalam, kulihat senyum kepuasan di wajah Bu Frisca. Walau bagaimanapun dan entah sampai kapan, Saya akan selalu melayani hasrat seksualnya yang berlebihan, karena memang ada jaminan mengenai kelulusan mata kuliahku yang tidak lulus-lulus itu dari dulu. SUHU DOMINO


NELLA

SUHU DOMINO
6100game
SUHU DOMINO - Namaku Nella. Saat ini aku duduk dibangku SMA kelas 2 di salah satu SMA swasta terkenal di Kota Bandung. Papahku seorang pengusaha SPBU di kota ini, banyak SPBU di kota ini adalah milik ayahku. Mamahku pengusaha butik. Jadi, hidupku serba kecukupan. Ditambah lagi aku anak tunggal. Papahku keturunan Arab, sedangkan mamahku asli Sunda maka tak heran mukaku ke-Arab-araban. Hidungku mancung, rambutku hitam panjang, kulitku putih (mungkin karena mamahku orang Sunda asli meskipun papahku Arab), badanku lumayan tinggi dan ideal, pantatku lumayan besar juga, payudaraku berukuran 34B (ya, lumayan besar untuk perempuan masih SMA sepertiku) dan satu hal lagi aku memakai jilbab ketika keluar rumah. Oh iya, di rumah kami memiliki 2 asisten rumah tangga dan satpam. Pertama ada Bi Tati, umurnya baru 22 tahun, tugasnya masak dan bersih-bersih rumah. Menurutku Bi Tati cantik dan putih, kalo org Sunda bilang mah bahenol. Kedua ada Mang Ayi, umurnya sekitar 35 tahun, tugasnya sebagai supir mamahku kadang juga suka bersih-bersih taman membantu Bi Tati. Satpam kami bernama Pa Adi, umurnya 30 tahun, badannya seperti tentara, berisi dan tegap. Menurutku dia mirip aktor favoritku, Mark Wahlberg. Mereka semua tinggal satu rumah dengan kami, mereka tinggal di rumah belakang atau yang biasa kami sebut sebagai paviliun. Setiap hari aku pergi ke sekolah menggunakan mobil Jazz biru kesayanganku. Kadang aku juga suka minta anter Mang Ayi kalo lagi males bawa mobil.
Hari itu aku ke sekolah nyetir sendiri, sebenernya lagi males bawa mobil tapi Mang Ayi lagi anter mamahku. Oh iya, aku memiliki 3 orang sahabat, yaitu Devi, Beni dan Aldi. Ya, meskipun kami bersahabat cowo-cewe tapi kami sangat akrab. Kami sudah bersahabat sejak SMP. Kalo orang-orang yang ga kenal kami pasti mengiranya kami adalah dua pasang kekasih karena kemana-mana kami selalu ber-4, gandengan, pelukan, yang pasti masih dalam tahap yang wajar. Devi dan aku hampir sama tingginya, cuma Devi lebih langsing dibanding aku dan lebih putih tapi urusan payudara punyaku lebih besar dari Devi. Menurutku Beni dan Aldi ganteng-ganteng. Beni memiliki rambut semi-mohawk dan jambangnya yang lebat kadang aku jadi baper kalo liat dia karena Beni tipe cowoku banget, Aldi memakai kacamata dan memiliki rambut yang lumayan gomplok dan dia selalu jadi sasaran guru untuk merazia rambutnya.


"Pagi-pagi udah bete aja sih cantik." Devi mengagetkanku saat aku duduk di kelas.
"Iyanih gue lagi males bawa mobil tapi Mang Ayi ga bisa nganter." Jawabku kesal.
Hari ini jam pelajaran selesai lebih cepat karena guru-guru akan rapat. Aku, Devi, Beni dan Aldi sangat senang sekali. "Eh, kerumah gue yuk kita dvd-ing." kataku. "Boleh banget tuh!" jawab mereka. Kami segera bergegas kerumahku yang berada di komplek elit, Batun*****l. sesampainya di sana, aku langsung meminta Bi Tati untuk membuat minuman dan membawa cemilan ke kamarku "Cepet ya, Bi!" kataku. "Oh iya, mamah belum pulang?" Pa Adi kok ga ada di depan?", "Belum neng. Kalo Pa Adi tadi lagi istirahat neng". Tanpa menjawab aku langsung menyusul teman-temanku yang sudah berada di kamarku. Tanpa ganti seragam aku langsung gabung teman-temanku yang sudah mulai nonton film duluan. Sudah 2 jam kami menonton film. Aku tiba-tiba mengantuk. "Nel, gerah nih minjem tanktop dong." kata Devi. Devi tak pernah memakai tanktop, jadi kalo pake seragam dalemannya cuma BH. Tanpa menjawab aku langsung tidur karena saking ngantuknya. Aku terbangun sebelum maghrib, Bi Tati membangunkanku. Teman-temanku sudah pada pulang. Handphone ku berbunyi, ternyata Line dari Aldi:
Aldi: Ga nyangka ya, Nella.
Nella: Kenapa, di?
Aldi: Aldi sent photo POKER ONLINE
Aldi: Aldi sent photo
Astaga! Ternyata Aldi mengirimkan foto bugilku. Aku baru inget minggu lalu aku iseng foto-foto ga pake baju dilaptopku. Meskipun begini gairah seksku sudah tinggi. Aku menangis dan memohon pada Aldi agar tidak menyebarkannya.
Nella: Gue mau deh lakuin apa aja asal jgn sebarin fotonya di :(
Aldi: Bener nih? Boleh deh, deal ya lo mau lakuin apa aja buat gue haha
Nella: Iya di asal janji jgn sebarin fotonya :(
Kemudian Aldi tidak membalas lagi. Aku deg-degan sama apa yang mau dilakuin Aldi. Dan masih khawatir dia akan menyebarkan fotonya. Keesokan harinya saat di sekolah aku langsung menghampiri Aldi, "Di, jangan sebarin dong gue mohon". Aldi hanya tertawa. "Gue serius, di. Gue takut dikeluarin dari sekolah dan ortu gue tau" mataku berkaca-kaca. "Tenang aja. Lo kan janji mau lakuin apa aja buat gue, ntar jam istirahat gue tunggu di gudang belakang. Kalo lo ga datang ya lo tau sendiri akibatnya". Aldi langsung meninggalkanku. Aku hanya melamun saja sepanjang jam pelajaran memikirkan apa yang akan dilakukan Aldi padaku. Teng! Teng! Teng! Jam istirahat telah datang.
"Ke kantin yuk!" ajak Devi padaku.
"Ga ah dev, gue lagi ga enak badan nih"
"Lo ga apa apa kan tapi?". Aku hanya menggelengkan kepala, Devi meninggalkanku dengan Beni. Setelah mereka pergi, aku langsung bergegas menuju gudang belakang sekolah. Di sana sudah menunggu Aldi.
"Akhirnya datang juga" haha..
"Lo mau apain gue di? tanyaku gugup
Aldi mendekatkan bibirnya pada bibirku. Aku langsung menghindar.
 "Oh ga mau? Yaudah gue sebarin!"kata Aldi sambil mengeluarkan handphone nya.
 " Iya di gu.. gue mau gue cuma kaget". Tanpa berpikir panjang Aldi langsung mencium bibirku. Awalnya aku hanya diam saja tapi lama lama aku bisa mengikutinya. Kami saling berciuman layaknya sepasang kekasih. Lidahnya keluar masuk mulutku, aku pun memainkan lidahku dimulutnya. Aldi bukan orang pertama yang menciumku, aku pertama ciuman saat SMP. Tangan Aldi mulai bergerilya. Tangannya meremas kedua payudaraku. Awalnya aku menahan tangannya karena baru kali ini ada cowo yang memegang payudaraku tapi lama kelamaan aku mulai merasakan geli yang membuat gairahku naik. "Ahh pelan pelan di",. Aldi membuka kancing seragamku sehingga kini tanktopku terlihat, "Gede banget toket lo, nel, gue udah incer ini dari lama. Aldi terus menggrepe payudaraku. Tali tanktop dan bh ku dibuka sehingga payudaraku sedikit terlihat. Aldi langsung mengeluarkan payudaraku dari sarangnya. Terlihat puting hitamku yang sudah menonjol. Aldi langsung melahap dan menjilatnya dengan rakus. "Ahhh di geli ahhhh" desahku. 2 menit Aldi mempermainkan payudaraku mulai dari menjilat dan mencupangnya. "Gue udah ga tahan nih, nungging sana pegangan sama kursi" aku yang masih merem melek karena rangsangannya hanya pasrah ketika Aldi menyuruhku menungging. "Lo mau ngapain di? Gue masih perawan" tanyaku setengah horny. Aldi tak menjawab hanya membuka celananya dan mengeluarkan kontolnya. Aku sempat menoleh kebelakang. Kontolnya cukup besar. Aldi menyingkap rokku sehingga terlihat paha mulus ku dan celana dalam pink ku. "Jangan entot gue di. Kita peting aja ya. ,pliss.aku memohon pada Aldi agar tidak memasukkan kontolnya ke dalam memekku. Dibukanya celana dalamku dan dilempar entah kemana oelh Aldi. "Plis jangan dimasukkin di" kataku memelas. "Diem ah banyak omong lo perek Arab!" Aldi membentakku dan mencoba memasukkan kontolnya ke memekku. Setelah meludahi kontolnya dai kembali mempenetrasi kontolnya."Pelan pelan di sakit awhh" namun Aldi tak menghiraukannya, setelah beberapa kali percobaan akhirnya kontolnya masuk dan robeklah selaput daraku oleh sahabatku sendiri, sedih rasanya tapi ini jalan satu-satunya agar aibku tidak disebarkannya. Aldi mulai menggenjotku perlahan namun lama lama semakin cepat. "Pelan pelan di gue masih perawan, sakittt awhhh" desahku. Lama kelamaan aku merasakan sensasi yang luarbiasa. Plak plak plak hanya suara itu yang keluar dari gudang ini. Aldi terus menggenjotku sambil meremas payudaraku. Sesekali kami berciuman saat aku menoleh kebelakang. "Ahhh di gue keluaaarrrr" aku merasakan orgasme setelah 4 menit digenjot Aldi. Rasanya lebih enak dibanding orgasme saat masturbasi. Aldi terus menggenjotku. Karena kalem dia tidak banyak bicara. "Ahhh cepetan di ahhh bentar laghiii bel masukkk ahhhh" kataku sambil mendesah. Setelah 7 menit akhirnya Aldi menyemprotkan spermanya di rokku. Crot crot crot. "Enak banget memekku lo, nel" katanya sambil membersihkan kontolnya. Aku yang masih lemas masih menungging dengan bertumpu pada kursi.
"Cepetan bersihin, gue ke kelas duluan ya. Inget ini baru permulaan, sayang" kata Aldi sambil mencium bibirku lalu dia pergi meninggalkanku yang masih lemas. Aku menangis karena sudah tidak perawan lagi tapi di sisi lain aku merasakan kenikmatan yang baru ini aku rasakan. Dengan cepat aku membersihkan sisa sperma Aldi di rokku dengan kain lap yang kutemukan di gudang. Sebelum masuk kelas aku ke toilet dulu membetulkan kerudungku yang acak-acakan dan kembali membersihkan sisa sperma Aldi. Aku menatap kaca. " Ini baru permulaan katanya. Apa lagi yang akan dia lakukan padaku?" kataku dalam hati. Tapi yang pasti aku menikmatinya dan aku sudah pasrah dengan apa yang akan Aldi lakukan lagi padaku. http://6100game.com/

NINDY DAN PAK AHMAD PART 2

SUHU DOMINO

Ini adalah lanjutan dari cerita pertama yang berjudul " JALAN PINTAS KENAIKAN KELAS NINDY ". Kalau kalian semua belum baca , silahakan dulu baca part 1 nya biar seruu..hehhehe..ini link nyaa silahkan di bacaa ! https://suhudominopunyacerita.blogspot.com/2020/01/jalan-pintas-kenaikan-kelas-nindy.html.

Setelah kencan pertama dilaksanakan dengan sukses di UKS Sekolah, aku masih menunggu kode dari Pak Ahmad untuk kencan bagian kedua karena sesuai janji awal, Pak Ahmad meminta tiga kali kencan dengan imbalan nilai mata pelajaran Sejarah yang bagus. Janji Pak Ahmad memang terbukti ketika aku melihat nilai sembilan terpampang di mata pelajaran Sejarah di rapor kenaikan kelas. Tentu itu sesuatu yang terlihat membanggakan bagi kedua orang tuaku, apalagi aku mendapat peringkat kedua di kelas karena nilai mata pelajaran non sejarah terutama mata pelajaran inti dari IPA semuanya berpredikat sangat bagus alias bernilai sembilan.
Tetapi tidak ada satupun orang di dunia ini yang tahu selain aku dan Pak Ahmad bahwa nilai itu harus mendapatkan bonus kenikmatan. Ya kenikmatan. Buatku bermain seks dengan Pak Ahmad adalah suatu bonus kenikmatan. Sewaktu kencan pertama, Pak Ahmad memang mengeluarkan spermanya di dalam vaginaku, tetapi untungnya hingga empat bulan berlalu aku tidak kunjung mendapatkan tanda-tanda kehamilan. Aku pun harus bersabar menunggu hingga bulan keempat ini untuk mendapatkan kode dari Pak Ahmad untuk saling memberikan servis cinta. Suatu waktu yang cukup lama memang buatku.
Hingga suatu saat di hari Senin, Pak Ahmad memintaku untuk menemuinya di ruang guru saat usai pulang sekolah. Aku pun merasa sepertinya ini adalah kode untuk kencan kedua dimulai. Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku pun bergegas untuk menuju ruang guru dan menemui Pak Ahmad. Tampak Pak Ahmad sedang duduk santai di kursinya sambil membaca koran. Sebuah kebiasaan yang sering dilakukan Pak Ahmad ketika sedang bersantai di ruang guru.
"ada apa Pak Ahmad?" tanyaku tiba-tiba kepadanya.
"oh kamu Nin, ayo waktunya pelajaran tambahan, ikut saya pulang ya." Pak Ahmad berkata sambil mengerlingkan matanya memberikan kode khusus yang tak lain adalah kode khusus untuk kencan kedua. Aku pun mengikuti Pak Ahmad menuju mobilnya dan kebetulan hari itu aku tidak membawa mobil ke sekolah karena mobilku sedang waktunya masuk bengkel.
"kamu sudah siap untuk pesta bagian kedua kan Nin?" Pak Ahmad berkata kepadaku ketika kami sudah berada di dalam mobil.
"emm, kapanpun untuk bapak saya siap kok"
"ya sudah pokoknya kamu ikut kemana saya mau ya, kita pesta hari ini"

Pak Ahmad pun memacu mobilnya ke arah utara keluar dari kota. Dalam perjalanan kami berdua sama sekali tidak berdialog, aku hanya terdiam menikmati alunan musik dari CD Celine Dion yang diputar sepanjang perjalanan hingga kami memasuki suatu kawasan yang dikenal sebagai kawasan lapangan tembak alias fuck centre di sebuah dataran tinggi di Jawa Timur, mobil ini memasuki sebuah villa berukuran sedang. Setelah memarkir mobil tepat di depan villa, Pak Ahmad segera beranjak keluar dari mobil dan menemui penjaga villa yang tadi membukakan gerbang. Terdengar olehku Pak Ahmad berkata untuk mengamankan villa ini dan memberi tiga lembar uang seratus ribuan. Aku mengerti maksud mengamankan disini adalah agar percintaan kami disini bisa berjalan dengan aman tanpa ada gangguan dari pihak luar. Memang wajar jika Pak Ahmad berbuat seperti itu mengingat kami berdua datang kesini masih menggunakan seragam kami masing-masing. Aku menggunakan seragam putih abu-abu yang biasa digunakan Senin dan Selasa dan Pak Ahmad masih menggunakan seragam PNS nya yang berwarna krem. Tentu saja akan sangat berbahaya jika diketahui orang luar ada guru dan murid sedang bercinta berdua di villa.
"ini villa punya Pak Ahmad?" Tajir juga ya bapak, seorang guru bisa punya villa keren gini. Tanyaku ketika kami sudah masuk ke dalam villa. Villa ini walaupun berukuran sedang tetapi tata ruang dan perabotan di dalamnya sangat eksklusif.
hahaha, jadi PNS sekarang kalo gak kreatif ya gak akan kaya nin, musti dapet ceperan dari anggaran dong. Kalo takut ketahuan ya musti pinter-pinter membungkam lah. Udah ah daripada kebanyakan ngobrol pestanya gak seru. Ayo dimulai aja ya., Pak Ahmad langsung menyerbuku dengan ciuman mautnya sembari tangannya mulai menggrepe-grepe toketku.
"hmpppp, paaa, bajunya gak dibuka dulu?"aku berkata di sela-sela adegan ciuman kami.
"buat pemanasan pesta sekarang gak usah dibuka aja, sama kayak ronde pertama kemarin"
Sejurus kemudian, Pak Ahmad mulai mengarahkan tangannya ke bawah rokku dan memelorotkan celana dalamku kemudian tangannya mulai mengocok vaginaku.
"aaaaah paaak, geliiiiiii" aku hanya berteriak merasakan kegelian yang luar biasa ketika tangannya mengocok vaginaku. Tangannya terasa amat cepat mengocok sehingga cairan pelumas vaginaku pun mulai keluar dengan deras hingga aku merasa amat sangat horny dan tak sabar merasakan ronde pemanasan kami.
"ah udah basah ya nin, papa masukin ya kontolnya" POKER ONLINE
"pak, ini kan seragamnya besok juga dipake sekolah, dibuka dulu aja ya" jawabku sambil mendorong tubuh Pak Ahmad.
"ah ribet nih, udah gampanglah masalah seragam, nanti malem kita beli diluar, nanggung udah horny papa. Pak Ahmad berkata sambil terus melanjutkan kocokannya di vaginaku. Aku yang mulai terbuai nafsu pun seakan tak punya tenaga lagi karena yang kurasakan adalah hasrat seks yang luar biasa.
"papa masukin ya nin, udah horny berat nih." Pak Ahmad menghentikan kocokannya di vaginaku kemudian melepas celana seragam PNS nya dan dilanjutkan dengan celana dalamnya hingga terpampang dengan jelas kontol besar yang sudah memasuki vaginaku beberapa bulan yang lalu. Pak Ahmad lalu menidurkanku di sofa dan menyibakkan rok abu-abu selututku hingga terbukalah vagina indahku.
"udah kangen kontol papa kan, nih papa masukin ya" Pak Ahmad kemudian melakukan penetrasi kontolnya ke dalam vaginaku dengan mulai menggesek-gesekkan kepala kontolnya di vaginaku.
"aaah pak, udah cepetan masukin, buruan ah." aku yang sudah sangat horny akhirnya mengarahkan kontolnya agar segera masuk ke dalam vaginaku dengan tanganku.
"wah udah gak sabaran ya, hehehe, puasin papa ya sayang"
Pak Ahmad pun menuruti kemauanku dengan segera memasukkan kontolnya ke dalam vaginaku hingga ambles semua. Kontolnya yang besar terasa memenuhi seluruh vaginaku. Sensasi kenikmatan pun semakin kurasakan ketika Pak Ahmad mulai menggenjot kontolnya sehingga aku pun mulai mendesah-desah.
Pak Ahmad sepertinya tampak menikmati persetubuhan kedua kami ini dengan tidak terlalu terburu-buru menuntaskan permainan. Ia melakukan genjotan dengan tempo yang relatif stabil sehingga membuatku tak henti mendesah. Sensasi genjotannya memang luar biasa. Hawa dingin di sekitar pegunungan ini pun tetap membuat kami berdua berkeringat karena kegiatan ini. Hingga sekitar sepuluh menit kemudian, aku pun mencapai orgasmeku yang pertama.
"aaaaah, aku nyampe paaa"
"ah udah nyampe ya sayang, tumben kamu manggil papa, mulai sekarang terusin manggil gitu ya sayang."
Walaupun aku sudah mencapai orgasmeku yang pertama, guruku ini tidak tampak menghentikan genjotannya dan tidak pula mempercepat tempo untuk mengejar orgasmenya. Ia tetap menggenjot dengan tempo yang sama sehingga mau tak mau membuatku pun mulai terbawa suasana.
"aah pa, kok gak berhenti sih, Nindy kan capek" aku merengek kepadanya.
"nanggung sayang, bentar lagi keluar kok, mau diluar apa didalem kayak kemarin?"
"diluar aja pa, Nindy takut hamil." aku berkata sambil tersipu malu
Hingga sekitar lima menit kemudian, Pak Ahmad pun mulai meracau dan berteriak
"aaah, papa nyampe sayang." ia berteriak sambil mengeluarkan kontolnya dari vaginaku dan menyemprotkan spermanya di mukaku hingga penuh dengan peju. Beberapa tetesan juga mengenai kemeja putihku hingga berbekas.
"tuh kan pa, nyemprot dimana-mana deh, gini kalo tadi seragamnya dilepas kan enak, itu seragam papa juga basah kena keringat gitu besok kan dipake lagi.."Kataku sambil membersihkan mukaku dari pejunya dengan tissue.
"ah papa udah punya seragam cadangan disini, masalah seragammu gampang, ntar malam beli"
"trus Nindy pake apa dong malam ini? Kan Nindy gak bawa baju ganti"
"sini ikut papa"
Akhirnya karena sudah kotor, aku pun melepaskan kemejaku dan dengan hanya mengenakan BH, aku pun mengikuti Pak Ahmad yang sepertinya sedang menuju ke sebuah kamar. Ketika sampai di kamar tersebut, aku lihat Pak Ahmad sedang membuka sebuah lemari berisi banyak baju cewek.
lho pa, kok banyak banget baju cewek disini? Kalo dilihat dari modelnya juga kayaknya buat cewek ABG.
"hahaha, emangnya temen papa tidur cuma kamu Nin? Kan enggak, hahaha"
Selagi aku memilih baju, aku melirik ke kontol papa yang terlihat masih tegang. Aku pun berpikiran untuk menggodanya lagi karena aku pun masih belum puas karena baru dapet satu kali orgasme.
"ih adeknya papa kok masih ngaceng aja sih, masih pengen lagi pa?"
"wah kamu pengertian sekali Nin, tiduran disana dong, BH-nya dicopot juga." Pak Ahmad berkata sambil melepas kemeja PNS nya yang berwarna krem sekaligus baju dalamnya. Aku pun melepas BH ku dan berbaring di kasur yang ada di kamar tersebut.
Tanpa menunggu lama, Pak Ahmad pun mulai melakukan penetrasi karena kontolnya sudah tampak keras daritadi. Tak seperti tadi yang diawali dengan menggesek-gesekkan kepala kontolnya dulu, kali ini Pak Ahmad langsung tancap gas memasukkan kontolnya ke vaginaku dan menggenjot dengan kecepatan tinggi.
"ah, ah, ah, papa ngebut banget" aku mendesah merasakan genjotannya yang luar biasa.
"hehehe, enak kan" tangannya pun tak ketinggalan meremas-remas payudaraku hingga aku pun mencapai orgasmeku dengan cepat.
"aaaaah, Nindy nyampe pa"
"wih cepet banget kamu nyampenya, bentar ya sabar papa belum nih" guruku ini pun meneruskan menggenjot vaginaku dengan aku hanya diam saja karena capek. Hingga beberapa menit kemudian Pak Ahmad mengeluarkan kontolnya dan menyemprotkan cairan orgasmenya, kali ini ke dadaku. Aku lihat ada sekitar tiga kali semprotan. Berkurang jauh dibandingkan waktu pertama tadi. Setelah itu Pak Ahmad pun ambruk di sebelahku dan kami berdua pun tertidur karena kecapekan.
Aku baru terbangun sekitar pukul 5 sore karena merasa lapar. Aku memang belum makan dari tadi siang. Aku lihat Pak Ahmad masih tidur sambil mendengkur, kontolnya terlihat layu padahal tadi ketika kami bertempur terlihat sangat gagah. Aku pun segera membangunkan Pak Ahmad. Setelah mandi kami pun pergi keluar mencari makan dan sekalian beli seragamku yang tadi kotor. Setelah makan, kami pun tak lupa melanjutkan pertempuran malam kami walaupun hanya satu ronde mengingat paginya kami tetap harus ke sekolah.
Paginya, kami pun berangkat ke sekolah berdua. Sesampainya di sekolah, banyak teman-temanku yang kaget melihatku keluar dari mobil Pak Ahmad.
"lho Nin, kok bareng Pak Ahmad, bukannya rumahmu berlawanan arah sama Pak Ahmad"
"oh, aku tadi berangkat dari rumah tanteku yang kebetulan gak jauh dari rumah Pak Ahmad, jadi ya bareng deh"
Ketika sampai di kelas, aku lihat hapeku berbunyi memberikan sinyal ada sms masuk, ketika kulihat ternyata sms dari Pak Ahmad, bunyinya
"thanks ya nin, pengalaman seks kemarin yang terindah buat papa, siap-siap hari Sabtu besok buat yang terakhir ya"
Aku pun hanya tersenyum simpul membaca sms tersebut, cepatlah datang hari Sabtu, tak sabar rasanya menunggu pertempuran indah itu lagi. 6100game

IMPORT BRAY !

SUHU DOMINO

6100GAME Group tempat aku bekerja banyak sekali tenaga-tenaga asing yang ditempatkan diberbagai tempat. Salah satunya berada dalam lingkunganku, dia dari Hongkong dan wanita lagi. Profesinya sebagai tenaga ahli dalam bidang promosi, periklanan, sales dan marketing. Mulai dari research lapangan dan sebagainya sampai produk barang. Namanya Angelique Khoo, tinggi semampai, kulit bersih, mata agak sipit dan hidung mancung, rambut sebahu, dan selalu mengenakan rok mini. Kebetulan sekali aku pekerjaan terlibat langsung dengannya, sehingga ruangannya satu kamar dengan aku dan mejanya berhadapan denganku.

Satu minggu berselang dia minta agar aku mengantarkan untuk cek pasar soalnya dia nggak bisa bahasa indonesia dan mulai kuajarkan sedikit sedikit. Ditengah perjalanan dia menawarkan aku untuk mengantarkannya kesuatu tempat yang menyenangkan sore nanti. OK jawabku tanpa memikirkan selanjutnya. Kebetulan cewekku Amanda sedang pulang kerumah orang tuannya dibandung, jadi aku bisa pergi dengan Angel.

Setelah research pasar, kami kembali kekantor dan menunggu jam kantor selesai sambil menyelesaikan sisa pekerjaan. Jam tujuh kami berangkat dari kantor menuju rumah makan padang dikawasan Juanda, aku memilih tempat disamping karena didalam sudah ramai. Selama aku ngobrol dengannya aku tawarkan jika dia bersedia aku ajak untuk nonton tari striptease laki-laki dan ternyata lagi dia mau.

Segera aku angkat kaki dari rumah makan tersebut untuk cari pakaian yang sesuai dengan acara tersebut ke pusat perbelanjaan kawasan bundaran HI -- Sogo. Putar-putar sampai jam sembilan malam, baru kami berdua menuju kawasan kuningan untuk menyaksikan tarian tersebut.

Kuparkir kendaraanku... lalu kami masuk berdua kedalam yang ternyata sebagian besar (kira-kira 80%) adalah wanita dari berbagai kalangan dan umur. Kami pesan tempat dan aku pesan minuman yang menyegarkan... ternyata dia minta minuman yang kalau dikonsumsi terlalu banyak akan memabukan. Tepat jam sepuluh dimulailah acara tersebut mulai dari musik yang ringan dan penari (laki-laki) dengan pakaian yang masih lengkap sampai musik yang menghentak-hentak dan penari tersebut sampai polos.... yang tinggal hanya kancutnya saja sambil meliuk-liukan badannya... aku perhatikan Angel yang mulai terpengaruh suasana meneriakan kata-kata yang kurang jelas kudengar... karena semua penonton umumnya kaum wanita berteriak histeris...

Jam dua belas malam selesai acara tersebut, kutuntun Angel kemobilku karena dia mulai mabuk akibat terlalu banyak mengkonsumsi minuman dan kuantarkan ke apartemennya dikawasan Gandaria kebayoran baru. Kuantar sampai kedalam kamarnya dilantai 4, aku istirahat sejenak disofanya. Angel bangun dan menghampiri diriku untuk mengucapkan terima kasih dan selamat malam... tapi tubuhnya jatuh dalam pelukanku sehingga nafsuku mulai bangkit. Kuciumi dari kening, mata, hidung hingga mulut... disambutnya ciumanku dengan permainan lidahnya yang sudah profesional. Lama kami berciuman dan aku mulai meremas teteknya yang agak kenyal... lalu kubuka resleting bajunya.... kemudian kususupkan tanganku kedalam behanya untuk meremas teteknya lagi dan memainkan putingnya.... sambil terus berciuman. Satu persatu pakaiannya jatuh kelantai... beha... cd... tapi kami masih berciuman. Tanganku tak tinggal diam.. meremas diatas sesekali memainkan puting dan meraba dan memainkan dibagian vaginanya... oi.... rambutnya yang gondrong.... hitam....

Vagina Angel telah banjir akibat otot vaginanya mengeluarkan cairan karena rangsangan dariku... tangannya mulai membuka satu persaatu pakaiannku sampai kami berdua bugil alias telanjang bulat. Kusodok sodok jari tengahku kedalam vaginanya


"Sssshhh..... oohhh.... Gung.... please..... ssssshhhhh.... don't stop.... aaaaahhhhhhh...."
Terus jari telunjukku memainkan klitorisnya yang mulai menegang.
"Sssshhhhh... aaahhhh....." dan dia mulai merebahkan badannya disofa kuciumi lagi putingnya dan kusodok-sodok lagi vaginanya dengan dua jari.
"Ssssshhhhh..... aaaaahhhhhh.....ooohhhh my gooooodddd ....ssssshhhhhh ....."
Angel mulai mencari-cari penisku yang sudah tegang sejak menuntun dia dari kuningan tadi.... dan mulai menghisap penisku mulai dari kepala

"Ssssshhhhh... aaahhhh..... Angel..... aaaahhhhh.... ssshhhhh ...."
Perlahan lahan mulutnya masuk dan melahap penisku semuanya.
"Ssssshhhhhhh ..... hhhhhmmmmmm.....,"
Kutambah jariku satu lagi hingga tiga yang masuk kedalam vaginanya.
"Ssssshhhhh.... aaachhhh....," tambah satu lagi hingga hanya jempol saja yang masih diluar memainkan klitorisnya.
"Ssssshhhh.... hhhhmmm.....," aku melepaskan penisku dari mulutnya dan mulai kuarahkan kebibir vaginanya yang banjir..... perlahan lahan kudorong penisku.

"Sssshhhhh.... oooohhhhh.... Agung.... hhhhmmmmmm....,"
Bibir bawahnya menggigit bibir atasnya, kuangkat kedua padanya dan kusandarkan disandaran sofa yang sebelah kiri sedang yang kanan kuangkat dan... "bless.."
"Aaaahhh..... sssshhhh....," kuayunkan perlahan lahan.
"Sssshhhhh... ooohhh my god..... come on... sssshhhhh...," terus kuayunkan hingga kupercepat ayunanku.
"Sssssshhhhhhh... Angel... aku mau keluar nich....,"
"Sssshhhhh.... aaaahhhhhh...," kedua pahanya mulai dijepitkan pada pinggangku sambil terus menggoyangkan pantatnya.
"Sssshhhhhh.... aaaahhh....."
Tiba tiba Angel menjerit histeris..
"Ooooooohhhhhh.... ssssshhhhhh.... ssshhhhh.... sssshhh....," ternyata dia sudah keluar, aku terus menggenjot pantatku semakin cepat dan keras hingga mentok kedasar vaginanya

"Sshhhhh.... aaaahhhh... aaaagggggghhhhh....,"
"Crettttt... crrreetttt... ccrreeett....," kutekan pantatku hingga penisku menempel dasar vaginanya, dan keluarlah maniku kedalam liang vaginanya.
"Sssshhhhh... bbbbrrrrrr.......," saat terakhir maniku keluar, akupun lemas tetapi tidak aku cabut melainkan menaikan lagi kedua pahanya hingga dengan jelas aku lihat bagaimana penisku masuk kedalam vaginanya Angelina yang dikelilingi oleh rambutnya yang lebat. Kebelai rambutnya sambil sesekali menyentuh klitorisnya

"Ssssshhhhhh... aaahhhhh...," aku mulai mengayunkan kembali penisku, biar agak ngilu aku paksakan. Kapan lagi......
"Sssshhhhh..... aaaahhhhh... hhhmmmm...," aku meminta Angel untuk posisi nungging dengan tidak melepaskan penisku dalam vaginanya. Penisku terasa dipelintir oleh vaginanya, terus kugenjot lagi "sssshhh.... ssshhhhh..."
Angel mendorong pantatnya.
"Aaaaaaachhhhhhh... again.... ssssshhhhh...," dia sudah keluar lagi.
Aku masih asik mengoyang pantatku sambil meremas teteknya yang dari tadi aku biarkan. "Sssshhhhh... hhhhmmmm.... aaaahhhh...."
"Creeettttt... creeett...," akupun menekan pantatku dan menarik pinggulnya hingga penisku mentok lagi didasar vaginanya, kami berdua sama sama lemas....


Kuambil sebatang rokok, kunyalakan dan kuhisap. Angel meminta rokok tersebut, aku nyalakan lagi. Kami duduk dan sama sama menikmati permainan tersebut sambil merokok dan meremas kemaluan kami masing masing....
Kuangkat tubuh Angel ketempat tidur..... kami tidak membereskan
pakaian kami yang masih berserakan dilantai ruang tamu... aku putar jam beker tepat pukul lima soalnya aku mau pulang.... angel mulai merapatkan matanya sambil tangannnya merangkul dan tubuhnya yang berkeringat merapat ketubuhku... meskipun udara dirungan sudah dingin tetapi tubuh kami masih berkeringat akibat permainan tadi....

Jam beker berdering... aku bangun.. lalu cuci muka dan siap untuk berangkat menuju rumahku karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Pagi harinya aku bertemu lagi dengan Angel... wajahnya yang ceria dan tubuhnya yang segar... kusapa dia ... morning.... lalu cruppp.... crup..... tak disangka dia menciumku..
Thanks.... kataku... anytime.... katanya.. lalu kubalas kucium lagi dia....crup...

Kami bekerja seperti biasa... tanpa sepengetahuan pacarku Amanda. SUHU DOMINO